Thursday, May 26, 2011

Resensi Buku: Dangerous Market, Managing in Financial Crisis

Pengarang : Dominic Barton, Roberto Newell & Gregory Wilson
Penerbit: John Wiley & Sons, Inc. 2003



Diterbitkan di Warta Bapepam, Juni 2005


Krisis ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu telah merubah peta perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Sebelum krisis, dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil pada angka 7% — 8 % per tahun, Indonesia dipandang sebagai salah satu macan perekonomian Asia. Setelah krisis datang, potret Indonesia menjadi sangat muram, dimana kerusuhan terjadi di berbagai wilayah, dunia usaha kehilangan daya saing, dan pasar modal kehilangan daya tariknya.

Saat ini perekonomian Indonesia sedang berada pada masa pemulihan. Meskipun masih ada sektor-sektor yang belum pulih, secara umum indikator-indikator perkenomian Indonesia, seperti tingkat inflasi, IHSG, nilai tukar rupiah dan GDP sudah menunjukkan perbaikan. Usaha-usaha perbaikan di berbagai sektor telah dilakukan seperti pengurangan dominasi negara pada dunia usaha melalui privatisasi BUMN, dan penerapan standar-standar international seperti prinsip-prinsip Good Corporate Governance dan Risk Management pada dunia usaha. Semua usaha perbaikan ini pada akhirnya akan membuat landasan perekonomian negara menjadi lebih kuat dan sehat dan berdaya saing global.

Di tengah kondisi ekonomi yang rebounding ini, akan sangat bermanfaat apabila para pelaku ekonomi berhenti sebentar dan meluangkan sedikit waktu untuk melihat ke belakang. Dengan melihat kembali ke masa-masa krisis ekonomi, banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari krisis ekonomi tersebut. Pelajaran tersebut akan menjadi bekal bagi para pelaku ekonomi untuk menghadapi permasalahan-permasalahan perekonomian yang mungkin muncul di masa mendatang.

Buku Dangerous Market membantu untuk memetik pelajaran tersebut. Buku ini disusun oleh konsultan-konsultan dari McKinsey and Company. Diterbitkan pada tahun 2003, buku ini memberikan gambaran mengenai krisis ekonomi di Asia berdasarkan riset-riset yang dilakukan para konsultan McKinsey and Company selama penugasan mereka di berbagai negara Asia yang mengalami krisis ekonomi. Team Penyusun merekam berbagai hal yang terjadi sehubungan dengan Krisis Ekonomi di Asia, seperti gejala-gejala awal sebelum datangnya krisis, menampilkan berbagai contoh perusahaan yang jeli memanfaatkan krisis untuk meningkatkan kinerja mereka, dan memberikan rekomendasi untuk menghindari krisis di masa mendatang. Pemahaman yang didapatkan dari buku akan sangat bermanfaat baik untuk mencegah munculnya krisis ekonomi di masa yang akan datang, maupun untuk menghadapi krisis ekonomi yang mungkin akan datang kembali.

Salah satu contoh kasus yang digambarkan pada buku ini adalah krisis ekonomi yang dialami Korea. Pada awal tahun 1997, nilai tukar mata uang Korea sangat stabil dengan angka pengangguran hanya 2,5% dan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,1% per tahun. Namun di tengah-tengah cerahnya perekonomian tersebut, awan mendung krisis ekonomi mulai tampak di kejauhan. Awan tersebut adalah sektor perbankan dimana tingkat return industrinya dan kemampuan manajerial personilnya sangat rendah, tingginya Non Performing Loan (NPL), dan banyaknya kucuran kredit dikeluarkan berdasarkan arahan Kementrian Keuangan dan Perekonomian.

Pada tahun itu juga, awan tersebut mulai menjadi hujan dan akhirnya menjadi badai. Pada musim gugur 1997, pertumbuhan ekonomi Korea turun menjadi 5% per tahun, dan pada tahun berikutnya turun menjadi negatif 6% per tahun. Tingkat pengangguran meningkat menjadi 8% pada 1998. Biaya yang dibutuhkan untuk merekapitalisasi sistem perbankan adalah sebesar 15% dari GDP (Sebagai informasi, di Indonesia biayanya adalah sebesar 55% dari GDP). Selanjutnya seperti yang terjadi di Indonesia, perusahaan-perusahaan konglomerasi di Korea mulai berguguran dan struktur perekonomian mengalami perubahan yang menyeluruh. Peraturan-peraturan dan standar-standar dunia usaha international mulai diterapkan secara intensif, dan banyak perusahaan yang sebelumnya tidak diperhitungkan bergerak menjadi pemimpin-pemimpin di industrinya.

Perubahan-perubahan serupa terjadi di banyak negara yang mengalami krisis ekonomi. Di Rusia, Alfa Bank yang sebelumnya jauh dibawah rangking 20 bank terbesar melejit menjadi salah satu dari bank terbesar di Rusia. Alfa Bank dapat mencapai hal tersebut karena secara konsisten melakukan komunikasi dengan pemegang saham dan nasabah, selalu membayar kewajibannya pada saat bank-bank lain menggunakan krisis ekonomi sebagai alasan untuk tidak melakukan kewajibannya, dan terus merekrut tenaga kerja yang handal. Di Brazil, Banco Itaú justru meningkatkan superioritas dari proses produksinya, meningkatkan keterampilan manajemen risikonya, dan meluaskan skala usahanya dengan mengakuisisi perusahaan perusahaan lain pada saat bank-bank lain berkelut menghadapi krisis. Banco Itaú mengakuisisi beberapa bank di luar negeri, termasuk Argentina. Saat ini, Banco Itaú merupakan bank swasta kedua terbesar di Brazil.

Meskipun memberikan dampak yang buruk, krisis ekonomi juga memberikan kesempatan emas bagi perusahaan-perusahaan yang peka melihat peluang-peluang. Dari segi peraturan, krisis memungkinkan dilakukannya penyesuaian terhadap peraturan yang berlaku pada masa-masa sebelum krisis. Perusahaan yang mampu melihat jauh melebihi hal-hal yang dibatasi peraturan yang berlaku sekarang akan dengan cepat meraih keuntungan dari krisis ekonomi dan menemukan kesempatan strategis yang baru. Sebagai contoh, sebelum krisis hampir seluruh negara-negara Asia membatasi kepemilikan asing pada bank. Namun dengan adanya krisis, kepemilikan ini dapat menjadi 100%.

Dalam hal penetrasi pasar, krisis ekonomi terbukti telah membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan luar untuk memasuki kawasan Asia. Holcim, salah satu perusahaan semen terkemuka di dunia yang berkedudukan di Swiss dan sudah lama berkeinginan untuk berekspansi ke Asia, mendapat kesempatan untuk mewujudkan keinginannya itu dengan membeli 25% saham Siam City Cement Corporation (SCCC), sebuah perusahaan konglomerasi di Thailand yang berniat melakukan refocusing kegiatan usaha. Pada tahun 1998, Renault memanfaatkan krisis untuk menjelajahi kesempatan di Asia dan negara-negara berkembang lain. 3 tahun kemudian, Renault benar-benar sudah menjadi perusahaan global karena berhasil membuat alliance dengan Nissan di Jepang, dan mengakuisisi Samsung Motor di Korea yang sedang mengalami masalah keuangan.

Krisis juga merubah perilaku konsumen. Pada masa sebelum krisis, merubah preferensi konsumen membutuhkan biaya yang sangat besar. Dengan adanya krisis moneter pelanggan semakin mudah untuk berganti pereferensi. Ramayana termasuk perusahaan yang berhasil memanfaatkan peluang perubahan preferensi pelanggan ini. Sebelum krisis, Ramayana tidak termasuk retail store yang mendapat banyak perhatian karena pakaian yang dijual adalah untuk golongan menengah ke bawah. Melihat bahwa krisis ekonomi telah menurunkan daya beli masyarakat, Ramayana dengan tanggap meraih peluang ini, sehingga Ramayana mendapat banyak sekali pelanggan-pelanggan baru.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa krisis ekonomi sulit diprediksi sampai ia benar benar datang. Team McKinsey menyatakan bahwa hal ini tidak benar. Melalui buku ini, Team tersebut mengatakan bahwa tanda-tanda peringatan akan datangnya krisis adalah serupa di berbagai negara, atau paling tidak memiliki pola yang sama. Karenanya krisis keuangan dapat diprediksi, besarnya dapat diperkirakan, tindakan pencegahan dapat dilakukan, pilihan-pilihan strategis dapat direvisi dan diimplementasikan, dan perbaikan-perbaikan dapat dilakukan untuk mengurangi dampak dari krisis tersebut.

Secara garis besar terdapat lima elemen yang berpengaruh terhadap krisis keuangan, yaitu ekonomi riil, sektor keuangan, ekonomi makro, keuangan internasional dan aliran modal, serta penentuan harga aset. Perekonomian suatu negara berjalan dengan baik bilamana terdapat keseimbangan dalam ke lima elemen ini. Namun jika salah satu elemen keluar dari keseimbangan dan mempengaruhi elemen lainnya, maka krisis ekonomi dapat terjadi. Salah satu contoh pemicu ketidakseimbangan adalah liberalisasi pasar yang dilakukan dengan cepat dimana negara belum siap menghadapinya. Liberalisasi yang demikian itu menyebabkan banyak perusahaan di negara tersebut tidak mampu menghasilkan income yang cukup untuk menutup biaya modal mereka, sehingga makin lama nilai aset perusahaan-perusahaan tersebut turun. Apabila ini terjadi secara luas, keseimbangan yang disebut tadi akan terganggu sehingga krisis ekonomi dapat terjadi.

Pengalaman Thailand berikut menunjukkan bagaimana hal ini terjadi. Sebelum krisis ekonomi, perusahaan-perusahaan domestik Thailand berlomba-lomba mendapatkan pinjaman dari luar negeri terutama mata uang US Dollar. Bagi perusahaan-perusahaan tersebut, pinjaman dari luar negeri dirasa sangat menguntungkan. Pertama karena suku bunga US Dollar lebih rendah dari pinjaman baht, dan kedua mereka merasa tidak akan ada risiko selisih kurs (karena pemerintah Thailand mematok mata uang baht terhadap US Dollar). Akibat dari kondisi ini Thailand dibanjiri oleh hutang-hutang dalam US Dollar. Kondisi ini bukanlah kondisi yang sehat, karena mudahnya perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh dana dari luar negeri tidak diimbangi dengan kemampuan menghasilkan output yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya. Dana-dana luar tersebut banyak yang diinvestasikan pada sektor-sektor yang tingkat pengembaliannya jauh dari yang diharapkan, seperti sektor properti. Pada titik tertentu, kondisi ini tidak bisa dipertahankan lagi dan kepercayaan pada ekonomi Thailand mulai runtuh. Akibatnya investor mulai menarik dana mereka dari Thailand dan mengakibatkan US Dollar menjadi langka dan sangat mahal. Mahalnya US Dollar menyebabkan pemerintah Thailand tidak kuat lagi mematok baht pada kurs tertentu terhadap US Dollar. Pengalaman Thailand ini serupa dengan apa yang terjadi di Indonesia. Untuk membuat rupiah tetap menarik, pada saat krisis ekonomi pemerintah meningkatkan suku bunga Rupiah sampai menjadi 50% per tahun. Dengan tingkat bunga setinggi ini tentu saja dunia bisnis tidak dapat berjalan. Para pelaku tidak akan sanggup membayar bunga sebesar itu, dan akan lebih menguntungkan bagi mereka untuk menyimpan dananya pada perbankan daripada mengolahnya sebagai modal usaha.

Untuk dapat mengetahui kondisi dari elemen-elemen yang mempengaruhi krisis sebagaimana disebut diatas tentu saja membutuhkan informasi-informasi yang tepat. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mendapatkan informasi-informasi yang tepat tersebut. Buku Dangerous Market merekomendasikan satu langkah praktis, yaitu secara berkala mengundang tokoh-tokoh dalam bidang tertentu untuk jamuan makan malam.

Tokoh-tokoh tersebut sebaiknya terdiri dari bankir lokal dan asing yang memiliki pengetahuan perbankan yang baik, ekonom yang bekerja untuk bank central, ekonom independen, wartawan lokal yang pernah atau sedang menulis masalah ekonomi negara, analis politik independen, anggota partai oposisi, dan pengusaha yang sukses. Pada jamuan makan malam tersebut perlu digali informasi mengenai pandangan mereka mengenai situasi terkini, apakah akan ada krisis yang datang, apakah perusahaan mereka dalam kondisi yang baik, apakah pemerintah memiliki rencana untuk menghadapi krisis, dsb. Mengadakan acara seperti ini secara berkala akan sangat membantu untuk memperoleh gambaran informasi mengenai kelima elemen sehingga dapat memperoleh gambaran mengenai kemungkinan akan terjadi atau tidaknya krisis ekonomi, dan langkah-langkah apa yang dapat diambil untuk mengantisipasinya.

Mengenali gejala-gejala atau penyebab dari krisis ekonomi bermanfaat untuk mencegah krisis, namun apabila krisis telah terjadi maka manajer harus mampu untuk menghadapinya secara tepat dan cepat. Team McKinsey merekomendasikan lima langkah besar untuk dilakukan para eksekutif untuk berhasil menghadapi 100 hari pertama dari krisis.

Pertama, para eksekutif harus memahami dan memanfaatkan secara maksimal posisi cash perusahaan mereka. Para eksekutif harus dapat menjaga likuiditas mereka. Kedua, para eksekutif harus mengidentifikasi dan meminimalisasi risiko operasi mereka. Ketiga, para eksekutif melakukan perencanaan yang akurat untuk menghadapi sederetan kejadian yang mungkin muncul dan tindakan-tindakan reaksi yang optimal untuk menghadapinya. Keempat, para eksekutif harus memeriksa kinerja perusahaan secara menyeluruh dan bersiap untuk menjual aset dalam rangka mendapatkan cash atau karena aset tersebut bukan bagian dari rencana jangka panjang perusahaan. Terakhir, para eksekutif harus memiliki kepemimpinan, visi dan strategi untuk menjaga kepercayaan dari karyawan, pelanggan, kreditor, investor, depositor dan regulator.

Satu hal yang wajib disadari oleh semua pihak, baik pelaku bisnis maupun regulator adalah bahwa saat ini investor global mensyaratkan good corporate governance. Yaitu adanya keterbukaan, transparansi, akuntabilitas, dan komitmen yang kuat akan pemegang saham melalui corporate governance yang memadai. Survey yang dilakukan McKinsey memperlihatkan bahwa investor bersedia membayar 30% premium untuk perusahaanperusahaan di negara berkembang yang dikelola dengan baik, dan bahwa perusahaanperusahaan yang melaksanakan good corporate governance mengalami peningkatan market value sebesar 10 — 12 %.

Buku ini bermanfaat bukan saja bagi para praktisi bisnis namun juga bagi regulator. Meskipun ia ditulis berdasarkan perspektif mikro dan dari sisi praktisi, ulasan-ulasan yang disampaikan dan contoh-contoh kasus yang disajikan dapat meningkatkan pemahaman regulator akan kondisi-kondisi riil yang dialami oleh para pelaku bisnis di banyak negara berkembang. Pemahaman ini sangat bermanfaat bagi regulator dalam melaksanakan tugasnya sebagai lembaga otoritas suatu industri. (Made Tirthayatra).

Monday, January 31, 2011

Resensi Buku: Socially Responsible Investment

Penerbit: John Willey & Sons Ltd. England, 2002
Pengarang : Russell Sparkes

Penulis Resensi: I Made B. Tirthayatra (Warta Bapepam, April 2005)


Pasar Modal seringkali dilihat sebagai wahana investasi yang bersifat hit and run, dimana investor mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam waktu sesingkatsingkatnya, atau zero sum game, dimana keuntungan seorang investor identik dengan kerugian yang diderita oleh investor lain. Pendapat ini, walaupun memang didasarkan atas praktek yang sering terjadi di pasar modal, tentunya tidak menggambarkan wajah pasar modal secara keseluruhan. Ibarat sebuah pisau yang dapat digunakan untuk menyakiti namun juga dapat digunakan untuk mengobati orang, investasi di pasar modal dapat dimanfaatkan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan orang lain, namun juga dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi perusahaan agar menjalankan usahanya berdasarkan prinsip-prinsip sosial yang bertanggung jawab. Contohnya adalah dengan memanfaatkan hak suara pemegang saham untuk membuat perusahaan mengikuti prinsip good corporate governance, lingkungan hidup, dan hak asasi manusia. Pendekatan investasi yang disebut terakhir ini, atau dikenal dengan istilah Socially Responsible Investment (SRI), pada akhirnya bukan saja menyehatkan perekonomian secara keseluruhan, namun juga menjaga keberlangsungan sumber-sumber daya alam.

Secara umum SRI didefinisikan sebagai filosofi investasi yang memasukkan pertimbangan-pertimbangan etika dan moral disamping pertimbangan finansial. Adapun pertimbangan-pertimbangan etika dan moral tersebut mencakup masalah-masalah lingkungan hidup, hak asasi manusia, dan corporate governance. Dalam buku Socially Responsible Investment: A Global Revolution ini, Russel Sparkes, pengarangnya, menyajikan ulasan mengenai SRI secara keseluruhan. Berbagai aspek seperti pengertian dan sejarah SRI, pendekatan-pendekatan SRI yang sering digunakan, profil pemodal SRI, isu-isu yang menjadi perhatian pemodal SRI, indeks-indeks saham-saham SRI, dan berbagai praktek SRI dengan mengambil contoh di beberapa negara maju seperti Canada, Australia, Inggris dan Jepang dikupas secara lengkap dengan bahasa yang sederhana. Untuk menarik perhatian pembaca akan topik SRI, Russel Sparkes mengawali buku ini dengan pembahasan mengenai trend SRI yang semakin meningkat sehingga pembaca yang skeptis terhadap masalah SRI pun akan mengakui bahwa SRI telah menjadi fenomena global yang harus diperhatikan.

SRI mulai dipraktekkan secara luas sejak dikeluarkannya Undang-Undang Dana Pensiun SRI Inggris (the British SRI Pension Fund Legislation) yang berlaku efektif pada tanggal 3 July 2000. Undang-undang ini mewajibkan Dana Pensiun untuk mencantumkan sejauh mana pertimbangan-pertimbangan sosial, lingkungan dan etika dimanfaatkan dalam berinvestasi, pada Pernyataan Prinsip Investasi (Statement of Investment Principles) mereka. Termasuk juga mencantumkan kebijakan pemanfaatan hak yang melekat pada investasi yang dilakukan (misalkan hak suara pada investasi saham). Sejak efektifnya UU ini SRI tidak lagi merupakan pendekatan investasi minor yang hanya dilakukan oleh segelintir pemodal, namun sudah berkembang menjadi praktek yang umum dilakukan dalam berinvestasi di pasar modal. Semakin banyak investor institusi yang menganggap bahwa SRI sudah menjadi bagian dari pendekatan standar mereka dalam melakukan investasi.

Dari berbagai studi mengenai pergerakan saham SRI diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja saham-saham SRI dengan saham-saham umum. Salah satu contohnya adalah studi yang dilakukan oleh Phoebus Dhrymes atas 464 saham AS dalam kurun waktu 1991-1996. Berdasarkan studinya ini, Dhrymes menyatakan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara return dari SRI dengan return keseluruhan saham di AS. Karenanya, satu hal yang perlu disadari oleh investor dalam SRI adalah bahwa meskipun SRI tidak mengabaikan pertimbangan-pertimbangan finansial, tidak berarti bahwa berinvestasi di SRI memberikan jaminan keuntungan yang lebih besar daripada berinvestasi pada saham-saham umum. Pada intinya, SRI adalah prinsip investasi dimana Investor tidak hanya memperhatikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan tetapi juga kemampuan sumber-sumber daya perusahaan tersebut, termasuk juga cara-cara perusahaan tersebut menjalankan usahanya. Karenanya, motivasi dalam melakukan SRI adalah bahwa investor dapat ikut berpartisipasi dalam usaha mewujudkan dunia yang lebih baik tanpa
mengorbankan kepentingan ekonominya.

Saat ini jumlah dana investasi institusi SRI sudah mencapai US $ 2.7 triliun, dan akan terus bertambah karena semakin banyak investor yang menaruh perhatian pada masalah-masalah yang bersifat etika dan moral. Contoh investment fund yang menggunakan prinsip SRI adalah Calvert Social Investment Fund yang tidak mau berinvestasi pada perusahaanperusahaan yang bergerak di bidang energi nuklir, peralatan perang, alkohol, tembakau, dan perjudian. Investment Fund ini mencari perusahaan-perusahaan yang memiliki karakteristik ramah lingkungan dan manajemen terbuka, sebagai tempat berinvestasi. Disamping itu juga ada Friends Provident Stewardship yang menghindari perusahaan-perusahaan yang melakukan eksploitasi hewan, menyebabkan polusi lingkungan, bekerja pada pemerintahan yang bersifat tirani, mengeksploitasi negara-negara dunia ketiga, bergerak di bidang pornografi, dsb. Friends Provident Stewardship mencari perusahaan-perusahaan yang berusaha dalam bidang suply kebutuhan pokok, konservasi energi, dan pendidikan sebagai tempat berinvestasi. Citizens Funds dan Standard Life Ethical Funds tidak berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang tidak ramah lingkungan, melakukan percobaan produk pada hewan, melakukan rekayasa genetika, bergerak di bidang pornography dan perjudian, dsb. Kedua fund ini menekankan untuk berinvestasi pada perusahaan yang mempublikasikan kebijakan lingkungannya.

Beberapa pendekatan SRI yang umum digunakan adalah negative atau screening approach dimana investor menghindari untuk berinvestasi pada perusahaan yang bergerak di industri-industri tertentu, dan positive approach dimana investor mentargetkan untuk berinvestasi pada Perusahaan-perusahaan yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Selain itu adapula shareholders activism approach, dimana investor tidak menghindari industri tertentu namun berusaha untuk memanfaatkan hak suaranya dalam mengarahkan kebijakan SRI Perusahaan.

Diantara pendekatan-pendakatan ini yang paling dominan adalah screening approach. Adapun perusahaan yang dihindari umumnya adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan senjata, tembakau, alkohol, pornografi, serta perusahaan yang secara langsung ataupun tidak mensupport pemerintah yang menindas hak-hak asasi, seperti Junta Militer di Burma. Disamping screening approach, trend yang sedang berkembang adalah bahwa pemegang saham memanfaatkan hak suaranya untuk menentukan arah perusahaan. Secara umum aktivitas pemegang saham dibagi menjadi: publisitas, dialog, dan pengajuan resolusi.

Buku ini bermanfaat bagi regulator Pasar Modal di Indonesia setidaknya dalam dua hal. Manfaat pertama adalah dalam rangka pengembangan pasar modal syariah. Terdapat beberapa persamaan pendekatan antara SRI dengan pasar modal syariah, misalnya dalam hal penggunaan screening approach pada industri-industri tertentu seperti minuman beralkohol dan pornografi. Karenanya, melalui buku ini regulator Pasar Modal Indonesia, khususnya yang terkait dengan pengembangan pasar modal syariah, dapat memperlebar cakrawala dengan melihat bagaimana berbagai investment vehicle yang bernuansa etika dan moral dikembangkan di negara-negara yang telah maju. Manfaat yang kedua adalah dalam rangka pengembangan SRI itu sendiri di Pasar Modal Indonesia. Sebagaimana disebutkan diatas bahwa SRI telah menjadi pendekatan standar bagi investor-investor institusi dunia dalam melakukan investasi, maka suka tidak suka, cepat ataupun lambat pasar modal di Negara manapun harus membuka diri terhadapnya.